MAKASSAR, BKM — Agam Rinjani saat ini viral. Baik di media konvensional maupun media sosial. Namanya selalu disebut-sebut. Banyak yang memujinya karena salut atas keberaniannya turun mengevakuasi pendaki asal Brazil Juliana Marins di Gunung Rinjani, Lombok, NTB.
Agam adalah seorang pencinta alam, sekaligus pemandu bagi para pendaki di Gunung Rinjani.
Dalam sebuah podcast, Agam mengaku jika ia adalah alumni Antropologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Agam adalah asli Makassar.
Selepas kuliah, Agam merantau ke Bali. Namun ia hanya bertahan beberapa lama di Bali. Ia memutuskan pindah ke Lombok dan bekerja sebagai sukarelawan bagi para pendaki.
Setelah keberhasilannya bersama tim mengevakuasi jenazah Juliana Marins, nama Agama Rinjani disebut dimana-mana. Bahkan warga negara Brasil ikut memberikan ucapan terima kasih kepada anggota Korpala Unhas ini.
Di tengah namanya yang lagi naik daun, Agam tidak melupakan almamaternya. Ia sempat melakukan video call dengan Kepala Departemen (Kadep) Antropologi Unhas, Prof. Dr. Tasrifin Tahara, Sabtu (28/6/2026).
Kepada BKM, Prof Tasrifin mengaku saat video call, Agam bercerita tentang kesulitan mengevakuasi Juliana. Pasalnya medannya sangat berat dan cuaca ekstrem.
“Saya mengapresiasi kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan Agam. Dan pekerjaan seperti ini bukan hal baru bagi Agam,” kata Prof. Tasrifin, Minggu (29/6/2025).
Menurut Prof. Tasrifin, saat mahasiswa Agam aktif di Korps Pecinta Alam (Korpala) Unhas dan aktif dalam berbagai aksi kemanusiaan. “Salah satunya saat gempa di Palu, ia juga terjun langsung,” katanya.
Selain itu, kepada Prof. Tasrifin, Agam mengucapkan terima kasih kepada Unhas dan seluruh Kerabat di Antropologi. “Dia meminta support dan dukungan Unhas dan alumni Unhas,” katanya.
Satu hal lagi, kata Tasrifin, yang membuat ia bangga. “Agam mengaku akan diundang ke Brasil karena ia sangat berjasa ikut membantu proses evakuasi jenazah Juliana,” katanya.
“Bagi saya sebagai Ketua Departemen Antropologi sangat bangga dengan kiprah alumni yang mendapat apresiasi dari dunia internasional,” kata Prof. Tasrifin bulan Agustus nanti akan menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan di KBRI Dili, Timor Leste.
Ia mengatakan, Agam sebenarnya hanya kerja tulus untuk kemanusiaan dan ini biasa bagi mahasiswa Antropologi.
“Ia juga mengaku tidak menyadari akan diapresiasi seperti saat ini,” imbuhnya.
Prof. Tasrifin mengaku jika hubungannya dengan Agam seperti kakak dan adik. Mereka intens berkomunikasi. Bahkan, Prof. Tasrifin ikut berdonasi ketika ada kegiatan-kegiatan kemanusiaan yang dilakukan Agam.
“Agam itu jadi mahasiswa Antropologi sejak 2008. Anaknya cuek dan unik tapi suka membantu teman,” ujarnya.
Bahkan, kata Prof. Tasrifin, Agam pernah menjabat sebagi Sekretaris Himpunan Mahasiswa Antropologi Unhas.
Selepas kuliah, Agam sempat pamit ke dirinya untuk aktif di kegiatan kemanusiaan. “Dia pamit sama saya untuk kerja dan melanjutkan petualangannya,” katanya.
“Saya lihat selalu ada kejujuran dan ketulusan di diri Agam. Saya berharap ia tetap seperti Agam yang dulu dikenal sebagai antropolog yang selalu siap untuk kerja-kerja kemanusiaan,” tutup Tasrifin. (*)






