GOWA, BKM — Kamis malam (25/12), masyarakat di Lingkungan Mangasa, Kelurahan Pandang-Pandang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa seketika heboh. Mereka dikejutkan dengan penemuan seorang warga, HA (46) yang meninggal dunia dalam kondisi telentang di atas tempat tidur tanpa penerangan lampu. Kondisi gelap itu bukan hanya terjadi di dalam kamar tidur tapi juga di ruang tamu sekaligus tempat usaha cukur HA selama ini.
HA ditemukan sudah tidak bernyawa di atas tempat tidurnya oleh RT setempat yang heran melihat kondisi rumah HA dalam keadaan gelap, padahal di malam seperti itu biasanya rumah HA sekaligus tempat usaha cukurnya terang benderang.
Karena penasaran, Ketua RT 01/RW 09 Yusuf Abbas berinisiatif mendobrak pintu rumah HA dan masuk ke dalam bersama beberapa warga lainnya. Ternyata di dalam kamar ditemukan HA terbaring dalam kondisi sudah meninggal dunia.
Ketua RT pun menghubungi pihak kepolisian untuk memeriksa kondisi HA hidungnya tampak mengeluarkan darah. Tim Inafis, Jatanras Polres Gowa serta Dokpol Polda Sulsel tiba di TKP sekira pukul 21.45 Wita. Petugas Kepolisian langsung bekerja melakukan pemeriksaan dan olah TKP disaksikan banyak warga setempat.
Kasat Reskrim Polres Gowa AKP Bahtiar kepada media mengatakan, dari hasil pemeriksaan, di tubuh HAtidak ditemukan tanda kekerasan. Tukang cukur itu dipastikan meninggal dunia karena sakit setelah polisi meminta keterangan pihak keluarga dan beberapa tetangga.
“Penemuan bermula dari kecurigaan Ketua RT setempat yang katanya lampu rumah korban tidak menyala sejak lama (dari pagi sampai malam). Karena curiga lampunya tidak menyala sehingga didobrak pintunya. Saat pintu dibuka, korban ditemukan sudah tidak bernyawa. Posisinya, telentang di atas tempat tidur. Ya, kemungkinan korban memiliki riwayat penyakit. Hal itu dibenarkan oleh pihak keluarga bahwa korban mengidap asam lambung atau maag akut,” jelas AKP Bachtiar.
Guna memastikan korban meninggal karena sakit, polisi menemukan tanda korban sempat muntah di kamar mandi. “Iya, ada tanda korban ini sempat muntah di kamar mandi. Tidak ada tanda kekerasan di tubuh korban dan TKP,” jelas Kasat Reskrim.
Polisi menemukan beberapa jenis obat-obatan sebagai barang bukti. Meski demikian, kata AKP Bahtiar, pihaknya masih mendalami dugaan korban meninggal karena sakit.
“Kami masih dalami segala informasi, data dan fakta yang ada. Namun tidak kami lakukan outopsi sebab pihak keluarga menolak dengan alasan korban meninggal karena sakit,” jelas AKP Bahtiar.
Sementara itu, Ketua RT 01/RW 09 Yusuf Abbas mengisahkan kronologi hingga menemukan HA meninggal dunia di dalam kamar.
Awalnya, kata Yusuf, dirinya curiga karena kondisi rumah HA sangat gelap, lampu tidak menyala.
“Saya kan Pak RT di sini. Saya curiga karena lampunya tidak menyala. Memang gelap. Kemudian saya meminta mantan istri korban, kebetulan korban dengan istrinya sudah lama pisah tempat tinggal. Saya meminta dia untuk masuk mengecek kondisi dalam rumah. Tapi dia bilang, kau (saya) yang masuk cek karena kau RT, kau yang harus pastikan,” kata Yusuf menirukan ucapan mantan istri korban.
Karena tidak ingin ada hal lain, Ketua RT lalu memanggil beberapa warga dan teman korban untuk masuk memastikan kondisinya.
“Saya panggil teman, warga dan anakku juga ikut dan sempat video waktu masuk. Saya masuk sekitar pukul 19.25 Wita. Saat dalam rumah dan sudah dinyalakan lampu, saya bersama yang lainnya melihat korban terbaring di tempat tidur. Ada darah terlihat keluar dari hidungnya. Tapi saya dan warga belum berani memastikan korban sudah meninggal dunia. Jadi saya panggil lagi warga ramai-ramai masuk untuk pastikan,” jelas Yusuf.
Dari pandangan mata Ketua RT dan warga setempat, korban ditemukan dalam posisi telentang dengan kedua tangan berada di bawah tubuhnya. Setelah petugas kepolisian tiba, semuanya langsung ditangani.
Diketahui, korban sehari-hari bekerja sebagai tukang cukur. Rumah yang ditempatinya merupakan peninggalan orangtuanya. Hanya saja, ia tinggal sendirian karena sudah pisah dengan istrinya. Bahkan anak-anaknya semua ikut tinggal dengan mantan istrinya sampai sekarang. Ketua RT pun mengklaim bahwa korban asli warga Mangasa.
Menurut Yusuf, tempat cukur korban sebenarnya buka, namun ia tidak terlihat beraktivitas sejak pagi. “Tempat cukurnya buka, tapi tidak ada orang, tidak terlihat korban. Tidak tahu ke mana dari pagi. Baru hari ini dia (korban) tidak terlihat mencukur.
Tapi sebelumnya memang korban sempat mengeluh sakit sebelum ditemukan meninggal. Sekitar jam 12 siang, sebelum dhuhur korban terlihat beli jalangkote. Dan waktu itu korban ditanya sama penjual jalangkote, kenapa tidak pakai lombok. Korban katanya bilang sakit dada,” papar Yusuf.
Yusuf juga mengatakan, sehari sebelumnya korban ditelepon saudaranya dan korban mengatakan sakit perut. Saudara korban menduga penyakit maag korban kambuh. Sementara anak-anaknya sesekali datang menjenguk. (sar)






