Tergeser Belanja Online, Ratusan Kios di Pasar Induk Minasamaupa Kosong, Wabup Gowa Akan Lakukan Evaluasi

GOWA, UJUNGJARI.COM — Pasar Induk Minasamaupa yang berlokasi di dekat Jembatan Kembar Sungguminasa, kian hari penghuninya makin berkurang.

Berdasarkan data yang diperoleh dari pihak UPT Pasar Induk Minasamaupa, dari 1.130 kios yang ada di Pasar Induk Minasamaupa itu, kini tidak cukup 30 persen pedagang yang masih bertahan. Hanya sekitar 200-an pedagang yang masih bertahan.

Hal itu diakui Kepala UPT Pasar Induk Minasamaupa Zainuddin Langke saat dikonfirmasi media ini ketika berlangsung giat peresmian Satkamling Pasar Induk Minasamaupa, dua pekan lalu.

Dikatakan Zainuddin, penghuni kios atau pedagang di pasar induk yang bertahan tak cukup dari 30 persen dari 1.130 kios yang ada baik di lantai 1 maupun lantai 2 khususnya pada lods kering (pakaian, sepatu dan lainnya). Di lantai basement khusus lods basah (penjualan ikan, ayam dan sayuran). Dilantai 3 atau rooftop lebih sepi lagi karena hanya ada sebuah cafe mirip warkop, itupun tak ramai pengunjung.

Yang bertahan hanya pedagang sayuran, bumbu dapur dan sembako. Pasar Induk Minasamaupa kini sepi. (foto/sar)

“Iya, di pasar ini terdapat 1.130 kios. Tapi khusus kios kering untuk penjualan pakaian dan sejenisnya sudah bisa dihitung jari. Itu pun rerata penjual cakar saja, ” kata Zainuddin.

Makin berkurangnya pedagang pengisi kios di pasar yang dibangun pada tahun 2009 ini, menurut Zainuddin disebabkan pedagang manual tergeser oleh era digitalisasi. Dimana hampir seluruh pedagang pakaian sudah memanfaatkan penjualan berbasis online.

“Iya, sekarang banyak pedagang yang menggunakan sistem online. Jadi konsumen lebih memilih membeli secara online. Kondisi ini membuat pedagang di Pasar Induk pun tergerus. Setiap hari suasana pasar sepi khusus di penjualan pakaian dan produk kering lainnya. Yang rami hanya pedagang sayuran, ikan, ayam dan bumbu-bumbu. kalau pun ada penjualan pakaian di lantai dua itu hanya para penjual pakaian impor atau cakar, itupun omzet mereka minim karena pengunjung kurang. Yang ramai pengunjung hanya di lods basah dan sayuran,” kata Kepala Pasar Induk.

Zainuddin mengaku bingung bagaimana menggiatkan kembali animo pedagang untuk kembali ke kios nya menjual. Bahkan disarankan gratis untuk mengisi kios pun, para pedagang enggan.

“Setiap bulan kami membayar biaya listrik hingga Rp60 juta lebih dan tidak pernah menunggak. Belum lagi air dan biaya kebersihan. Semua jalan. Yang tidak ada aktivitas adalah pedagang di lods kering itu. Tersisa pedagang pakaian cakar saja yang ada. Kami sudah mengarahkan dan mengajak para pedagang penghuni kios untuk aktif kembali jualan di pasar induk, namun mereka menolak dengan alasan tidak ada pembeli atau tidak ada pengunjung pasar, ” kata Zainuddin lagi.

Terkait kondisi Pasar Induk Minasamaupa yang makin berkurang, Wakil Bupati Gowa Darmawangsyah Muin yang dimintai komentarnya saat hadir dalam launching Ruang Bersama Indonesia (RBI) bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (P3A RI) Arifah Fauzi di Desa Lempangang, Kecamatan Bajeng, pada Jum’at (23/5) lalu mengatakan akan segera melakukan evaluasi.

Wabup Gowa menegaskan, Pemerintah Kabupaten Gowa akan mendalami masalah berkurangnya pedagang khusus kios di lods kering yang semakin sangat kurang tersebut.

“Kita akan evaluasi, apa penyebabnya dan apa solusinya. Kita akan lakukan pendalaman kenapa bisa seperti itu. Insya Allah kita berharap mudah-mudahan di pemerintahan ‘Hati Damai’ (Husniah Talenrang dan Darmawangsyah Muin) ini kita dapat menemukan solusi yang tepat agar Pasar Induk Minasamaupa ini bisa menjadi contoh bagi pasar-pasar lainnya. Kita akan fokus gali penyebabnya dan akan upayakan Pasar Induk bisa kembali beroperasi dengan optimal sebagai pusat perbelanjaan kebutuhan pokok masyarakat terbesar di Gowa, ” tandas Darmawangsyah Muin.

Sekadar diketahui, Pasar Induk Minasamaupa dimulai dibangun pada 2009 oleh Pemerintah Kabupaten Gowa. Pasar Induk ini berlantai lima dan pembangunannya menelan anggaran besar, yakni puluhan miliar.

Anggaran ini secara rinci digelontorkan Pemkab Gowa dalam lima kali penganggaran. Alokasi anggaran pertama pada tahun 2010 sebesar Rp3 miliar, kemudian pada 2011 sebesar Rp6 miliar, tahun 2012 dialokasi lagi sebesar Rp7 miliar. Dan tahun 2013 dibackup APBD sebesar Rp16 miliar. Pasar ini diresmikan tahun 2014. –

Artikel Tergeser Belanja Online, Ratusan Kios di Pasar Induk Minasamaupa Kosong, Wabup Gowa Akan Lakukan Evaluasi pertama kali tampil pada Ujung Jari.