SMPN 3 Wujudkan Sekolah Ramah Lewat Program AKUR dan SCM

MAKASSAR,BKM–Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Makassar menjadi salah satu dari enam sekolah di Kota Makassar yang ditunjuk sebagai sekolah percontohan dalam Program Sekolah Ramah Anak.

Program ini mulai dilaksanakan sejak awal Juli 2025 dan telah berjalan selama lima minggu.Tujuannya adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mampu membentuk karakter siswa menjadi pribadi yang santun, peduli, serta saling menghargai.
Salah satu kegiatan unggulan dalam program ini adalah AKUR, singkatan dari Akhiri Kata Umpat, Rajut Kebersamaan. Program ini dilatarbelakangi oleh masih maraknya penggunaan kata-kata kasar di kalangan siswa saat berinteraksi. Tak jarang, siswa memanggil temannya dengan sebutan yang tidak sopan, bahkan menggunakan nama orang tua secara sembarangan. Hal tersebut mencerminkan rendahnya kendali emosi dan kepedulian sosial.

Sri Munawati Warman, guru Matematika sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, menjelaskan bahwa pelaksanaan program ini dimulai dengan sosialisasi kepada para guru dan wali kelas. Setelah itu, penyampaian diteruskan ke siswa dengan melibatkan OSIS sebagai agen perubahan.
Anak-anak kita perlu dibimbing dalam memilih kata. Kata-kata itu bisa menjadi jembatan, tapi juga bisa melukai. Karena itu, melalui AKUR, kami ingin membangun budaya tutur yang lebih positif. OSIS kami gerakkan untuk masuk ke kelas-kelas menyampaikan kampanye ‘Satu Kata, Satu Kebaikan’,” ujar Sri Munawati.
Tak hanya kampanye verbal, sekolah juga menyelenggarakan podcast edukatif yang menghadirkan empat narasumber dari berbagai latar belakang, seperti Wali Kota Makassar, alumni yang kini menjadi dosen Psikologi di UNM, dan seorang siswa yang membagikan pengalaman pribadinya dalam mengelola emosi.

Pelaksanaan program ini turut mendapat pemantauan dari Lembaga Administrasi Negara (LAN) yang berkantor di Antang. Selama lima hari, LAN melakukan evaluasi untuk menilai sejauh mana program mampu menciptakan lingkungan sekolah yang ramah, responsif, adaptif, mandiri, dan harmonis.
Menjelang peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, sekolah juga tengah menyiapkan berbagai lomba bertema kebangsaan. Salah satunya adalah lomba majalah dinding (mading) bertema AKUR yang digagas oleh OSIS, sebagai bentuk implementasi nilai-nilai program dalam karya visual dan tulisan. Selain itu, sekolah juga berusaha menghidupkan kembali permainan tradisional untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya lokal.

“Kami ingin momentum kemerdekaan ini tidak sekadar jadi ajang perayaan, tetapi juga sebagai media edukasi. Permainan tradisional kami pilih agar siswa bisa mengenal budaya sendiri, bukan hanya yang modern,” ujar Sri Munawati, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.
Sementara itu, Gustina Fatiha Azzahra Sulistia, siswi kelas IX yang akrab disapa Gustin, mengaku merasakan dampak positif dari program SCM (Self Control Mastery). Program ini menurutnya sangat membantu para remaja untuk lebih mengenal dan mengendalikan diri.

“SCM itu mengajarkan kita bagaimana menguasai dan mengontrol emosi. Saat remaja, kita mulai memasuki masa pubertas dan banyak hal berubah. Kita jadi lebih sensitif terhadap lingkungan. Kalau tidak diarahkan, emosi itu bisa berdampak buruk. Tapi lewat program ini, saya jadi lebih bisa memahami diri dan orang lain,” ungkap Gustin.
Dengan rangkaian program ini, SMP Negeri 3 Makassar berharap mampu menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain dalam membangun suasana belajar yang lebih positif, ramah, dan membentuk karakter peserta didik yang kuat secara emosional dan sosial.(mg2-mg1)

source

News Feed