MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Seleksi Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) di Kota Makassar disorot keras. Proses yang seharusnya menjunjung prinsip objektivitas dan transparansi itu diduga hanya menjadi formalitas belaka.
Pasalnya, sejumlah peserta yang telah gugur atau bahkan tidak mengikuti tahapan akhir seleksi, yakni tes wawancara, disebut-sebut masih berpeluang “diangkat” kembali.
Dugaan tersebut mencuat setelah beberapa BCKS yang tidak mengikuti tes wawancara diketahui dipanggil ke Hotel Maxone, Jalan Taman Makam Pahlawan, Makassar, beberapa waktu lalu.
Pemanggilan itu diduga untuk mempertemukan mereka dengan sejumlah pihak yang disebut-sebut memiliki kedekatan dengan Wali Kota Makassar dan dinilai mampu mengakomodir BCKS meski telah dinyatakan tidak lolos tahapan seleksi.
“Saya dipanggil, jadi saya datang,” ujar salah satu BCKS SD kepada ujungjari.com, Senin (5/1).
Ia mengakui secara terbuka bahwa dirinya tidak mengikuti tes wawancara, yang merupakan tahapan krusial dalam seleksi BCKS. Namun, ia mengaku heran lantaran tetap mendapat panggilan. “Saya tidak ikut tes wawancara. Saya juga tidak tahu kenapa saya dipanggil ke Hotel Maxone. Katanya masih bisa,” ungkap BCKS SD ini.
Menurut pengakuannya, ia tidak sendiri. Beberapa rekan sejawatnya yang juga tidak mengikuti tes wawancara disebut turut menerima panggilan serupa di Hotel Maxone. “Teman-teman yang tidak ikut wawancara juga dipanggil. Katanya masih bisa, infonya ada kebijakan dari Pak Wali,” katanya.
Jika dugaan ini benar, maka praktik tersebut dinilai mencederai prinsip meritokrasi dan berpotensi menimbulkan preseden buruk dalam tata kelola pendidikan di Kota Makassar.
Publik pun mendesak agar Dinas Pendidikan serta pihak terkait memberikan penjelasan resmi terkait pemanggilan sejumlah BCKS yang telah gugur, termasuk klarifikasi soal pertemuan di Hotel Maxone.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kota Makassar maupun pihak penyelenggara seleksi BCKS terkait dugaan tersebut.
Pengamat pendidikan di Makassar, Munir, SAg, MAg, menilai dugaan tersebut sangat berbahaya bagi tata kelola pendidikan. Menurutnya, jika peserta yang telah gugur masih bisa “dihidupkan” kembali melalui jalur non prosedural, maka seleksi BCKS kehilangan makna.
“Kalau benar peserta yang tidak ikut wawancara masih dipanggil dan dijanjikan bisa lolos, itu bukan lagi seleksi, tapi rekayasa. Ini merusak prinsip merit system dan mencederai guru-guru yang sudah mengikuti seluruh tahapan secara jujur,” tegas Munir yang juga mantan Kepsek SMP di Kota Makassar tiga periode ini.
Ia menambahkan, tahapan wawancara merupakan instrumen penting untuk menilai integritas, kepemimpinan, dan visi calon kepala sekolah. Mengabaikan tahapan tersebut sama saja mempertaruhkan kualitas kepemimpinan sekolah ke depan.
“Kalau proses ini dibiarkan, maka jangan heran jika ke depan kepala sekolah tidak punya kapasitas manajerial dan integritas. Dampaknya langsung ke mutu pendidikan,” katanya.
Munir juga mendesak aparat penegak hukum dan inspektorat untuk turun tangan mengusut dugaan pertemuan BCKS di hotel dan kemungkinan adanya intervensi kekuasaan.
“Ini sudah masuk wilayah etik dan hukum. Harus dibuka terang agar publik tidak terus berspekulasi,” pungkasnya. (**)
Artikel Seleksi Kepsek Diduga Formalitas, Peserta Gugur Dipanggil ke Hotel Maxone? pertama kali tampil pada Ujung Jari.




