BERITAKOTAMAKASSAR.COM — Tim HiFive dari Program Kreativitas Mahasiswa skema Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) Universitas Hasanuddin (Unhas) berhasil menggalakkan program peningkatan kesejahteraan kepada para mantan pekerja seks perempuan (MPSP) sebagai mitra.
Program pengabdian Tim HiFive diketuai Liliana Mu’allim dari Fakultas Kedokteran dengan anggota tim Muh.Fauzan Idha (Prodi Kesehatan Masyarakat), Muhammad Zoel Ramadhan (Prodi Sistem Informasi), Nur Alya Firdha (Prodi Ilmu Hukum), dan Syafira Ramadhani (Prodi Ekonomi Pembangunan), serta dosen pendamping Umniyah Saleh, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Tim ini mengusung Program Peningkatan Kesejahteraan Psikologis dan juga ekonomi para MPSP dengan judul program High Five Victory: Perwujudan Emansipasi pada Mantan Pekerja Seks Perempuan sebagai Transformasi Diri Menuju Ingenuity dan Holistic Wellbeing.
Pelaksanaan Program HiFive telah berlangsung dari bulan Juli hingga September dengan 22 pertemuan. Kemudian dilanjutkan pada bulan Oktober untuk pelaksanaan keberlanjutan program.
Kegiatan pengabdian dilakukan dengan menyasar lima aspek psikologi positif mitra, yaitu psychological wellbeing, social wellbeing, emotional wellbeing, spiritual wellbeing dan finansial wellbeing yang bertujuan memberdayakan MPSP di Kota Makassar melalui metode komprehensif untuk membantu mitra memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan mencapai kesejahteraan holistik.
Agenda akhir sekaligus penutup dari program HiFive dikemas dalam konsep acara Refleksi Jejak, yang terdiri dari kegiatan PodCare yang merupakan podcast bersama empat orang mitra, pameran hasilkarya dari mitra, penayangan event recap yang berisi perjalanan dari awal pelaksanaan kegiatan,apresiasi dan diakhiri dengan konferensi pers.
Acara refleksi jejak dilaksanakan pada Selasa, 30 September 2025 di Makassar Creative Hub. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas di Makassar sebagai volunteer, dalam kegiatanlaunching campaign #JatuhBangkitKembali kepada masyarakat umum. Tujuannya, menghadirkanlingkungan positif dan kesadaran penerimaan terhadap kehadiran perempuan dengan status MPSP di tengah masyarakat.
Hadir dalam acara ini perwakilan DinasPemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Selatan (DP3A) Dyah Ramadhani, S.Psi., Organsiasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI), dosen pendamping dan 10 orang mitra.
Program ini diharapkan dapat menjadi ruang pulih bagi MPSP sebagai mitra dan menyebarkan kesadaran positif bagi masyarakat, seperti disampaikan Ketua Tim HiFive, Liliana Mu’allim.
“Teman-teman MPSP seringkali dianggap sebelah mata, bahkan mendapatkan banyak diskriminasi dari masyarakat. Oleh karena itu, melalui program ini dapat memberikan awareness kepada masyarakatbahwa setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Mereka berhak untuk terus bertumbuh dan bangkit dari berbagai kesulitan yang dialami,” jelasnya
Kegiatan ini mendapat respons positif dan dukungan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Selatan, yang diwakili Dyah Ramadhani selaku Penata Kelola Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
“Kami dari DP3A sangat mendukung kegiatan sosial yang melibatkan seluruh perempuan untuk diberdayakan seperti program HiFive ini. Semoga program ini terus berlanjut dan menjadi pelopor untuk menghadirkan program-program pemberdayaan perempuan selanjutnya,” ucapnya.
Dyah Ramadhani menyampaikan harapannya agar MPSP mendapat akses permanen pada layanankesehatan dan konseling. Selain itu, setiap MPSP keluar dari program dengan akses permanen ke layanan kesehatan. Termasuk kesehatan mental dan dukungan konseling yang mengurangi trauma, stigma, dan risiko kekerasan berulang.
Dosen pendamping Umniyah Saleh, mengatakan keberanian tim HiFive mengangkat isu yang sensitif seperti MPSP layak diapresiasi. Ia juga memandang program HiFive tidak hanya berdampak bagi mitra, tetapi juga memberikan pembelajaran berharga bagi mahasiswa.
“Tentu, program ini sangat bermanfaat juga bagi mahasiswa, di mana mereka belajar bagaimana merancang program yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan mitra. Proses ini membutuhkan waktu yang tidak singkat, hingga akhirnya lahirlah lima aspek yang menjadi fokus utama, yaitu psychological capital, emotional well-being, psychological well-being, spiritual well-being, dan financial well-being. Dengan proses perancangan itu, secara tidak langsung mahasiswa mampu menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam dirinya,” jelas Umniyah Saleh.
Salah satu mitra dengan inisial P dalam agenda podcast menyampaikan testimoni pelaksanaan program HiFive yang memberinya banyak perubahan dan manfaat.
“Semua agenda program HiFive sangat saya suka dan bermanfaat, salah satunya memberikan saya pelajaran dalam mengelola emosi dalam situasi yang sulit dan tidak terkendali,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas program ini, karena dapat merasakan lingkungan menerimanya dan menghadirkan ruang positif bagi mereka. Selain itu, potensi dalam membuat karya ternyata mampu digeluti dan menghasilkan karya yang bernilai ekonomis, sehingga dapat menjadi aktivitas baru dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi. (*)











