PAREPARE, BKM — Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulsel mencetak sejarah baru di ajang Penyuluh Agama Islam (PAI) Award tingkat nasional tahun 2025. Sebanyak tujuh penyuluh dari Sulsel berhasil menembus 10 besar nasional dari sembilan kategori yang diperlombakan. Dari tujuh penyuluh, satu diantaranya, adalah Arni Madjid, Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Parepare.
Arni Madjid berhasil masuk dalam 10 besar nasional pada kategori Pendampingan Kelompok Rentan, berkat inovasinya dalam program bertajuk Lansia Agamis, Harmonis dan Sehat (Lahat) . Program tersebut menyasar kelompok lansia di UPT Mappakasunggu Parepare.
“Alhamdulillah, Wasyukrulillah, masuk 10 besar se-Indonesia pada kategori kelompok rentan, dan Insya Allah Agustus ke Jakarta berkompetisi tahap II, mohon doa dan dukungannya,” ujar Arni Madjid, Rabu (16/7).
Program Lahat yang diinisiasi Arni berfokus pada pendampingan spiritual dan sosial terhadap lansia, guna meningkatkan kualitas hidup di masa tua. Pendekatannya mencakup kegiatan keagamaan, edukasi kesehatan, serta penguatan relasi sosial.
Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Sulsel, Mulyadi Iskandar, menyambut baik capaian ini. Dia menyebutkan bahwa keberhasilan ini merupakan sejarah penting dalam kiprah penyuluh agama Islam di Sulawesi Selatan.
“Alhamdulillah, ini sejarah untuk Kemenag Sulsel. Baru kali ini kita dapat meloloskan 7 penyuluh sekaligus selama ajang ini digelar,” kata Mulyadi Iskandar.
Dia berharap tujuh nomine dari Sulsel dapat tampil maksimal pada seleksi tahap kedua yang dijadwalkan berlangsung Agustus 2025 di Jakarta dan mengajak seluruh pihak untuk memberikan dukungan.
“Mohon doa dan dukungannya semoga 7 penyuluh kita yang masuk nominasi dapat memberikan yang terbaik pada penilaian tahap II. Semoga sukses,” tambahnya.
Arni menjelaskan bahwa program pendampingan lansia yang ia jalankan merupakan bentuk kepedulian terhadap kelompok rentan yang sering terabaikan, terutama dalam aspek spiritual dan sosial. “Pendampingan yang kami lakukan ini menghadapi tantangan tersendiri, tapi semua bisa dilalui dengan baik atas kerja keras, kesabaran, dan menjalin sinergitas dengan lintas terkait,” ujar Arni.
Menurutnya, lansia merupakan kelompok yang berada di fase akhir kehidupan dan membutuhkan dukungan menyeluruh, tidak hanya secara fisik, namun juga secara mental dan spiritual.
Keikutsertaan dalam PAI Award menurut Arni bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang untuk berbagi praktik baik antarpenyuluh di seluruh Indonesia. Ia berharap karyanya bisa menjadi inspirasi bagi penyuluh lainnya. Seleksi tahap kedua akan menentukan tiga besar nasional dari masing-masing kategori. Penilaian akan dilakukan melalui presentasi, wawancara, serta evaluasi program kerja oleh dewan juri pusat.
Dengan semangat kebersamaan dan inovasi yang diusung para penyuluh, Kemenag Sulsel kini menaruh harapan besar pada kiprah mereka dalam membawa nama Sulawesi Selatan bersinar di tingkat nasional. (mup/D)





