SIDRAP, BKM — Pemkab Sidrap bersama Universitas Padjadjaran dan Kementerian Transmigrasi memaparkan hasil ekspedisi patriot kawasan transmigrasi Pitu Riase di Ruang Rapat Pimpinan, lantai III Kantor Bupati Sidrap, Selasa (2/12).
Ekspedisi selama empat bulan itu menghasilkan pemetaan lengkap tentang kondisi sosial budaya, ekologi, geospasial, hingga kultur petani di kawasan transmigrasi. Hasilnya kini menjadi bahan perumusan rekomendasi strategis bagi program pengembangan kawasan, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Bupati Sidrap, H. Syaharuddin Alrif, menegaskan Ekspedisi Patriot dilakukan secara mendalam dan bukan sekadar kunjungan lapangan biasa.
“Tim Patriot bukan sekadar bertamasya, tetapi melakukan ekspedisi serius. Mereka tinggal, berbaur, dan bersosialisasi dengan masyarakat. Karena itu, hasil pemetaan ini layak menjadi dasar pengembangan ekonomi Pitu Riase,” ujar Syahar.
Dia menekankan pentingnya optimalisasi permukiman transmigrasi yang terus mendapat perhatian pemerintah pusat. Pada 2025, sebanyak 145 unit rumah baru dibangun sehingga total unit transmigrasi di Lagading kini mencapai 165 unit. Investasi infrastruktur kawasan ini disebut mencapai Rp35 miliar, belum termasuk tambahan Rp15–20 miliar yang dialokasikan untuk jembatan, sekolah, dan fasilitas pendukung lain.
Syahar juga menyampaikan bahwa setelah pembangunan fisik selesai, fokus pemerintah adalah memastikan rumah-rumah transmigrasi ditempati serta masyarakat mengikuti program pengembangan kawasan industri dan perkebunan. Komoditi seperti kelapa genjah akan menjadi unggulan utama, termasuk industri turunannya seperti
sapu lidi, briket tempurung kelapa, sabut kelapa. Langkah ini diyakini mampu menghidupkan pusat-pusat ekonomi baru di Pitu Riase.
Plt Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Nakertrans, Adli Lukman, menjelaskan bahwa tim melakukan observasi detail selama empat bulan. “Mereka turun dari dusun ke dusun, memetakan potensi, kendala, hingga usulan masyarakat. Semua ini menjadi landasan kuat untuk rekomendasi pengembangan kawasan transmigrasi,” katanya.
Seorang petani setempat mengungkapkan apresiasi atas kegiatan tersebut. Menurutnya, ekspedisi ini membuka ruang pertukaran informasi dan pengetahuan, terutama terkait kondisi tanah dan praktik pertanian yang lebih efektif. (ady/C)






