MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Pengamat tata kelola pemerintahan lokal, Aminuddin menilai pemilihan ketua RW memang memiliki potensi terjadinya money politik. Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat pemilihan di level lingkungan lebih rawan terhadap praktik tersebut.
“Pertama, jumlah pemilihnya sangat sedikit, hanya para ketua RT, sehingga biaya untuk memengaruhi suara relatif kecil dan lebih mudah dilakukan dibanding pemilihan umum berskala besar,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, kedekatan sosial antarwarga sering menjadi celah, karena hubungan personal dapat dimanfaatkan untuk memberikan janji atau imbalan tertentu demi mendapatkan dukungan.
“Kedua, minimnya pengawasan formal membuat potensi transaksi politik sulit terdeteksi. Pemilihan RW umumnya mengandalkan etika dan komitmen bersama, sehingga ketika integritas kandidat lemah, peluang terjadinya politik uang semakin terbuka.” kata Aminuddin.
Selain itu, Aminuddin juga menyoroti adanya kelompok tertentu yang memiliki gengsi tinggi jika kalah dalam pemilihan ketua RW. Kelompok ini kerap merasa dirinya dekat dengan para penguasa atau memiliki kedudukan sosial tertentu sehingga tidak ingin dicap gagal hanya dalam pemilihan RW.
“Ada pihak-pihak yang merasa memiliki kedekatan dengan struktur kekuasaan, sehingga kekalahan dalam pemilihan RW dianggap sebagai pukulan terhadap martabat mereka. Karena itu, demi menjaga citra dan gengsi, mereka bisa saja menempuh berbagai cara untuk menang,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi seperti ini berpotensi mendorong praktik-praktik tidak sehat, termasuk menghalalkan segala cara, bahkan sampai pada politik uang, demi memastikan kemenangan kandidat yang mereka dukung. (drw)
Artikel Pemilih Sedikit, Risiko Money Politik di Pemilihan RW Makin Terbuka pertama kali tampil pada Ujung Jari.




