Mantan Wali Kota Makassar Danny Pomanto Sebut F8 Bukan Milik Pemkot Tapi Swasta

MAKASSAR, BERITAKOTAMAKASSAR.COM — Mantan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan ”Danny” Pomanto kembali menghadirkan perhelatan yang sudah identik dengan kota ini, yakni Makassar International Eight Festival and Forum atau lebih dikenal dengan sebutan F8.

F8 lahir dari gagasan Danny Pomanto ketika masih menjabat Wali Kota Makassar. Konsepnya sederhana namun berani, yakni menggabungkan delapan sektor seni, budaya, dan kreativitas dalam satu ruang, mulai dari film, fashion, food, fiction writing, fine art, fusion music, flora & fauna, hingga folk.

“F8 itu ide dari saya. Kami rancang, kami patenkan, lalu membentuk PT F8 Indonesia. Sejak lima tahun lalu, penyelenggaraannya resmi dipegang swasta,” jelasnya.

Banyak orang menyangka F8 adalah milik pemerintah kota. Padahal, lanjut Danny, pelaksana justru menjadi penyewa seperti halnya event organizer lain. “Bahkan kadang ada anjungan yang tidak mereka sewa, sementara kami selalu sewa. Jadi jelas, F8 ini bukan milik Pemkot, melainkan kegiatan swasta yang lahir dari Makassar,” terangnya.

Jika dulu F8 selalu digelar di sepanjang Pantai Losari dengan arena memanjang 1,3 kilometer, maka di tahun 2025 ini konsepnya berbeda. Lokasi baru dipilih di kawasan terbuka yang ada belakang Trans Studio Mall, Makassar.

“Di Losari tidak diberi izin, jadi kami memilih lahan di Trans Studio Mall. Luasnya sekitar enam hektare, efektif empat hektare bisa digunakan. Jadi nanti akan dibuat panggung yang bentuknya menyerupai angka delapan, dengan dua lingkaran besar. Pengunjung cukup berjalan 300–400 meter untuk menikmati seluruh area, tidak perlu 2,6 kilometer seperti dulu,” ungkap Danny.

Pindahnya lokasi justru membuka peluang konsep baru. Arena F8 kini lebih ringkas, terintegrasi, dan mudah diakses.

Future Land untuk Generasi Z

Tahun 2025 ini, F8 menghadirkan kejutan baru, yakni Future Land. Inspirasi diambil dari festival musik dunia Tomorrowland.

“Kita buat parade DJ. DJ terbaik akan tampil bergantian tanpa ada jeda. Dari satu panggung ke panggung lain, langsung diisi. Jadi tidak ada satu menit pun yang kosong,” ujar Danny.

Future Land khusus dipersembahkan bagi generasi Z yang haus hiburan modern dan digital. Namun, festival ini tidak melupakan akar budaya. Para desainer dari Spanyol dan Filipina ikut serta, sementara talenta lokal dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan juga tampil.

Danny mengakui, kondisi ekonomi saat ini membuat banyak pedagang kecil kesulitan. Karena itu, F8 menyediakan ruang khusus untuk UMKM dan pedagang kaki lima.

“Sudah ada lebih dari seratus pedagang kaki lima yang mendaftar. Kami ingin mereka yang lemah bisa ikut merasakan manfaat,” tutur Danny.

Selain itu, kuliner lokal dan produk kreatif akan menjadi salah satu daya tarik utama, sehingga festival ini bukan hanya hiburan, tapi juga penggerak ekonomi rakyat.

F8 2025 juga memberi ruang bagi refleksi. Salah satu segmen pembukaan akan didedikasikan untuk menghormati 10 korban perjuangan masyarakat dalam menuntut keadilan demokrasi.

“Kami masih berduka, tapi duka itu tidak boleh menghanyutkan kita. Kita harus bangkit, lebih optimis untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” tegas Danny.

Dress code hitam pun dipilih untuk menggambarkan suasana berkabung, sekaligus menegaskan sikap optimisme setelah melewati masa sulit.

Pengalaman pelaksanaan F8 tahun lalu menjadi pelajaran berharga. Kala itu, penumpukan pembelian tiket di lokasi membuat puluhan orang pingsan. Kini, penyelenggara lebih ketat.

“Tiket F8 dijual online dengan harga Rp35.000. Tapi masyarakat tetap bisa membawa botol plastik untuk dapat potongan harga. Kami sarankan beli sehari sebelumnya agar tidak menumpuk di lokasi,” jelas Danny.

Sejak awal, tujuan F8 adalah menjadikan Makassar sebagai tuan rumah budaya global. Bukan masyarakat lokal yang mendatangi dunia, melainkan dunia yang datang ke Makassar.

“Alhamdulillah, selama delapan tahun, F8 telah membuktikan bahwa kebesaran budaya Bugis-Makassar-Mandar-Toraja mampu bersanding dengan budaya dunia,” kata Danny, bangga.

Ia menyebut F8 sebagai bagian dari “stretching” sosial, sebuah cara relaksasi setelah masyarakat dilanda ketegangan politik dan ekonomi. “Setelah stres, kita butuh stretching. Inilah modal kita untuk bangkit kembali. F8 adalah identitas kebesaran budaya kita, kreativitas anak muda Makassar, dan peradaban yang selalu konsisten apa pun kondisinya,” ucapnya.

F8 2025 akan berlangsung pada 24–28 September 2025 di kawasan belakang Trans Studio Mall, Makassar. Festival ini dijanjikan lebih spektakuler dibanding tujuh F8 sebelumnya, menghadirkan hiburan kelas dunia sekaligus kekayaan budaya Nusantara.

“Mari datang ke F8. Semua yang viral, baik nasional maupun internasional, ada di sini. Keluarbiasaan Makassar akan terlihat di sana,” ajak Danny. (*)

source