MAKASSAR, UJUNGJARI.COM — Kota Makassar mengalami perubahan signifikan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Periode 2014–2024 menjadi fase transformasi yang tak terelakkan, ditandai dengan pesatnya pembangunan kawasan terbangun. Namun beriringan dengan menyusutnya ruang hijau dan meningkatnya kerentanan lingkungan.
Berdasarkan pemetaan dan kajian tata ruang, selama satu dekade terakhir Makassar tercatat kehilangan sekitar 30 persen ruang terbuka hijau.
Pada saat yang sama, area terbangun meningkat hingga 15 persen, mencerminkan laju urbanisasi dan ekspansi pembangunan yang terus berlangsung. Dampak lanjutan dari kondisi tersebut adalah bertambahnya zona rawan banjir, yang kini meningkat sekitar 12 persen dibandingkan satu dekade lalu.
Ketua Komunitas Hijau Indonesia, Ahmad Yusran, menilai setiap perubahan pada peta tata ruang Makassar menyimpan cerita tentang arah kebijakan dan konsekuensinya terhadap lingkungan hidup.
“Setiap piksel pada peta ini adalah cerita tentang tanah yang menyempit, air yang mencari jalan, dan arah kebijakan yang menentukan masa depan,” ujar Ahmad Yusran.
Ia menegaskan, berkurangnya ruang hijau tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan dan daya dukung ekosistem, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap peningkatan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir.
Menurutnya, ruang hijau berperan penting sebagai daerah resapan air yang kini semakin tergerus oleh betonisasi.
Komunitas Hijau Indonesia mendorong pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan untuk menjadikan data dan peta perubahan ruang sebagai dasar evaluasi kebijakan pembangunan ke depan.
Pembangunan, kata Ahmad Yusran, harus tetap berpijak pada prinsip keberlanjutan agar Makassar tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga tangguh secara ekologis.
“Transformasi kota tidak bisa dihindari, namun arah dan dampaknya masih bisa dikendalikan,” pungkasnya. (drw)
Artikel Makassar 2014–2024: Satu Dekade Transformasi, Ruang Hijau Menyusut dan Risiko Banjir Meningkat pertama kali tampil pada Ujung Jari.











