Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra. Kemampuan menulis puisi yang baik dan menarik tidak dimiliki semua orang.
Salah satu yang memiliki bakat menulis puisi adalah Aqila Nazhifa. Aqilah adalah siswi di SMP Negeri 1 Polongbangkeng Utara (Polut) Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Aqilah anak dari pasangan Muammar Kadafi dan Ummiati Karim memiliki hobi menulis, membaca, menyanyi, memasak dan mencoba hal baru yang positif. Aqilah bercita-cita menjadi seorang dokter dan penulis.
Berikut empat puisi yang ditulis oleh Aqila Nazhifa:
Dunia yang Kau Warnai
Jika dunia ini kosong dan tak pernah kau isi,
mungkin hanya ada warna gelap dan rasa hampa,
langkah-langkah kami akan gamang,
tak bisa apa-apa, tak tahu mau ke mana.
Namun kini—lihatlah, Guru—
dunia kami penuh dengan warna,
dengan goresan dan garis-garis
yang dulu tak pernah kami mengerti.
Kau ajari kami tentang mimpi,
tentang memilih warna yang indah,
tentang garis mana yang harus dilanjutkan,
dan mana yang harus kami perbaiki perlahan.
Kau hadir seperti cahaya yang pelan-pelan masuk,
mengisi ruang yang dulu kosong,
menghidupkan titik kecil dalam diri kami
hingga tumbuh menjadi harapan.
Setiap kata yang kau lantunkan,
setiap nasihat yang kau semai,
adalah sayap-sayap kecil
yang membantu kami terbang lebih tinggi.
Kami tumbuh bukan hanya karena buku,
tapi karena ketulusanmu menuntun,
karena sabarmu membentuk kami kembali
di saat kami hampir menyerah.
Guru…
dalam langkah kami nanti,
ada jejakmu yang tak akan pernah hilang.
Dalam setiap mimpi yang kami kejar,
ada doa-doamu yang diam-diam menguatkan.
Terima kasih, Guru,
telah mengubah dunia kami
menjadi tempat yang penuh warna,
penuh arah, penuh keberanian.
Tanpamu kami hanyalah titik,
namun bersamamu kami menjadi lukisan.
_____
Bisik Kalbu di Tepian Sunyi
Di antara luasnya bumi yang tak pernah tidur,
takdir kembali menyapa langkahku,
menyisakan jejak lembut yang tertinggal
di pintu hatimu yang perlahan terbuka.
Kala senja turun perlahan,
langit jingga berubah menjadi perak,
angin membawa kabar dari kejauhan
seolah ingin memeluk ragaku yang kian letih,
menawarkan damai di tengah hiruk pikuk hari.
Hatiku adalah ruang teduh,
dengan jendela setengah terbuka,
dindingnya ditemani bayang-bayang rindu
yang tak pernah benar-benar pudar,
meski malam sering datang tanpa aba-aba.
Setiap huruf yang kutulis,
adalah serpih perasaan yang tak sempat tersampaikan,
seperti rahasia yang hanya angin pahami,
namun selalu kembali menggema
di tepian sunyi yang kutinggalkan untukmu.
Kubingkis pagi yang lembut,
agar cahayanya menyentuh langkahmu,
kubingkis malam yang tenang,
agar gelapnya menjadi tempatmu beristirahat.
Di antara waktu yang berlalu tanpa suara,
kusulam harap yang tak pernah habis,
biarkan setiap detik menjadi saksi
betapa kalbuku masih menunggu
tanpa meminta apa pun selain mengerti.
_______
Yang Tak Sempat Aku Miliki
Setiap kali aku memandangmu,
ada tenang yang menetap,
ada nyaman yang tumbuh perlahan
seolah dunia mereda hanya dengan hadirnya dirimu.
Kau terlalu indah
untuk aku hanyutkan begitu saja dalam perasaanku.
Aku ingin menjadikanmu abadi;
matamu, caramu bicara,
semuanya sudah aku hafal seperti doa yang sering kusebut diam-diam.
Aku ingin menyelam lebih dalam
ke dasar perasaanku sendiri,
menyelami apa yang tumbuh untukmu
tanpa batas, tanpa ragu.
Namun langkahku terhenti
saat kulihat kau bersama dia
kau tersenyum, kau tampak bahagia,
dan hatiku belajar
bahwa tidak semua yang indah
harus dimiliki.
______
Jejak Sang Pahlawan
Jejak sang pahlawan negeri
Terlukis indah di lembar sejarah yang terjaga,
Mengisahkan perjuangan penuh makna,
Tentang pengorbanan demi cahaya merdeka
Di bisikan malam yang hening dan syahdu,
Terdengar gema langkah para pejuang terdahulu,
Saksi bisu menyimpan kisah di medan perang yang berdebu,
Tentang darah dan doa yang berpadu untuk Ibu Pertiwi.
Mereka datang,
Mereka berperang,
Mereka menang, lalu mereka gugur.
Bunga bangsa gugur satu demi satu,
Namun jiwa mereka tak pernah padam di waktu,
Tanah air menangis mengenang jasa tanpa ragu,
Merindukan jiwa-jiwa pahlawan yang dulu membela bangsaku.
Kini generasi penerus bangsa berdiri teguh,
Menyambung perjuangan yang pernah hanyut oleh waktu,
Dengan kekuatan seribu api di dalam kalbu,
Kami berjanji menjaga tanah air sepenuh restu.
Wahai pahlawan, damailah dalam pelukan bumi pertiwi,
Namamu abadi menari di langit negeri,
Semangatmu mengalir di nadi kami,
Menjadi pelita perjuangan yang takkan mati.(*)






