MAKASSAR, BKM — Kota Makassar kembali menegaskan posisinya sebagai pusat perkembangan sains nasional dengan menjadi tuan rumah Kongres Ilmuwan Muda Indonesia (KIMI) IV yang terintegrasi dengan Indonesia–Australia Young Scientist Forum (IAYSF) 2025.
Kegiatan yang berlangsung 8–10 Desember di Universitas Hasanuddin ini menghadirkan ratusan ilmuwan muda dari dalam dan luar negeri untuk memperkuat diplomasi sains, riset kolaboratif, serta kepemimpinan ilmiah yang inklusif.
Rektor Universitas Hasanuddin, Prof Jamaluddin Jompa, menyatakan kebanggaannya atas dipilihnya Makassar sebagai pusat penyelenggaraan forum ilmiah bergengsi ini. “Makassar dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini punya sejarah panjang sebagai jembatan maritim dan pusat pertukaran pengetahuan. Fondasinya sudah kuat, dan saya yakin teman-teman ilmuwan akhirnya tetap memilih Makassar,” ungkapnya di Ballroom Unhas Hotel, Senin (8/12/2025).
Prof JJ sapaan akrabnya menceritakan bahwa gagasan lahirnya Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) banyak berawal dari perbincangan intens para ilmuwan lintas daerah, termasuk Makassar. Bahkan dinamika pemilihan nama organisasi pun menjadi kisah menarik yang menunjukkan kreativitas komunitas ilmiah.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan media untuk mengangkat kerja-kerja ilmuwan agar tidak kalah oleh isu populer. “Banyak ilmuwan kita luar biasa, tapi sering tidak terlihat karena dianggap tidak trending. Media memegang peran penting agar anak muda melihat ilmuwan sebagai profesi membanggakan,” tegasnya.
Menurutnya, negara besar hanya bisa maju jika ilmu pengetahuan ditempatkan sebagai fondasi pembangunan. “Tak ada bangsa besar tanpa ilmuwan kuat. Tugas kita memastikan ilmu pengetahuan hadir untuk masyarakat,” tambahnya.
Ketua Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI), Dr Lilis Mulyani, menjelaskan bahwa kegiatan KIMI dan berbagai program ALMI berjalan melalui dukungan komunitas ilmiah dan mitra pendanaan global. Ia menegaskan ALMI bukan lembaga pemberi dana riset.
”Kami tidak memiliki pendanaan APBN, jadi tidak menyediakan hibah riset. Dukungan kegiatan selama ini berasal dari komunitas ilmiah, sponsor, serta mitra seperti KONEKSI,” jelasnya.
Meski begitu, ALMI berperan penting sebagai penghubung untuk memperkuat kapasitas ilmuwan muda Indonesia. “Kami fokus pada capacity building. Misalnya pelatihan kecerdasan buatan (AI training) untuk meningkatkan keterampilan dosen muda agar mampu memanfaatkan teknologi dalam pekerjaannya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi riset tetap menjadi prioritas ALMI, namun pendanaan riset biasanya diakses bersama mitra luar negeri. “Untuk riset, kami berkolaborasi dengan universitas atau peneliti lain untuk mengakses dana dari luar negeri, seperti LPDP, pemerintah Australia, Eropa, atau lembaga internasional lainnya. ALMI memfasilitasi jejaring, termasuk kolaborasi terbaru dengan University of Southern California (USC) di bidang artificial intelligence,” paparnya.
Menteri Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi, Prof Brian Yuliarto, menegaskan bahwa KIMI IV menjadi wadah strategis untuk membangun aliansi riset yang berkelanjutan. “Penemuan besar tidak lahir dari satu laboratorium saja, tetapi dari jaringan ilmiah yang kuat,” ujarnya.
Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias, menyebut forum ini sebagai masa depan kolaborasi ilmiah kawasan Asia Tenggara dan Oseania. “Forum ini mempertemukan ilmuwan muda dari Indonesia dan Australia untuk membangun kerja sama jangka panjang. kami punya 5 ilmuan yang bakal kolaborasi dengan peneliti indonesia,” tegasnya.
Kegiatan ini juga dirumuskan Phinisi Declaration, sebuah komitmen bersama ilmuwan Indonesia–Australia untuk memperkuat diplomasi sains, kemitraan riset lintas disiplin, dan kepemimpinan ilmiah yang berintegritas. Makassar semakin mengokohkan diri sebagai pusat gravitasi baru sains Indonesia, sekaligus memperluas jejaring riset global melalui kolaborasi yang inklusif dan berdampak. (ita)
KIMI IV dan IAYSF 2025 Resmi Dibuka di Unhas, Makassar Jadi Pusat Diplomasi Sains Indonesia–Australia






