MAKASSAR, BKM — Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menaruh perhatian ke Sulawesi Selatan akibat kasus Tuberkulosis (TB) tertinggi ke delapan secara nasional. Kementerian Kesehatan akan memberikan bantuan 20 alat rontgen di Sulsel, khususnya Kota Makassar.
“Sulsel termasuk dalam delapan provinsi dengan kasus TB tertinggi di Indonesia bersama Jatim, Jateng, Jabar, Banten, DKI (Jakarta), NTT, Sulsel, dan Sumut. Semua dilakukan pemeriksaan, delapan provinsi ini prioritas,” ujarnya di Makassar, Selasa (13/1).
Benjamin mengatakan, rencananya Kota Makassar akan mendapatkan 20 alat rontgen portabel pada tahun 2026 ini. Nantinya, alat rontgen portabel tersebut bisa digunakan untuk 3 ribu pasien.
“Jika sehari bisa melayani 50 pasien, maka pada tahun 2026 diperkirakan ada 60.000 orang yang akan diperiksa di Makassar,” kata dia.
Benjamin mengungkapkan rontgen portabel sangat khusus dan ringan. Bahkan, alat tersebut bisa dibawa ke mana-mana untuk mempermudah diagnosa TB.
“Besok kami juga akan bertemu dengan Pak Gubernur untuk menyerahkan alat rontgen portabel. Alat ini beratnya hanya 3 kg dan bisa dibawa ke kelurahan atau rumah-rumah warga untuk mempermudah diagnosa,” tuturnya.
Berantas Tuberkulosis
Benjamin mengatakan, Presiden Prabowo Subianto menugaskan Kemenkes untuk pemberantasan TB secara nasional. Benjamin menyebut kasus TB di Indonesia mulai menurun, termasuk di Kota Makassar.
“Di Kota Makassar, penduduknya sekitar 1,4 juta jiwa dan ditemukan 9.885 kasus TB pada tahun lalu. Jadi ada sekitar 9.800 rumah yang harus dikunjungi,” kata dia.
Meski demikian, Benjamin belum memastikan target penuruan angka TB di Indonesia, khususnya di Kota Makassar.
“Harapan kami, kasus TB di Makassar pada tahun 2027 atau 2028 harus turun karena setelah dikerjakan selama tiga tahun dampaknya harus kelihatan. Jadi strategi kita yaitu gunakan apa yang program bagus, kita jadikan program nasional,” ucapnya.
Benjamin yang didampingi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, dr. Evi Mustikawati Arifin, mengakui Sulsel masuk ke dalam delapan provinsi kasus terbesar untuk TB dikarenakan jumlah populasinya tinggi.
Dari data Dinas Kesehatan Sulsel akhir tahun 2025, sepuluh kabupaten dengan capaian terendah penemuan kasus TBC periode Januari–November 2025 yakni Kabupaten Tana Toraja 22 persen, Toraja Utara 27 persen, Soppeng 30 persen, Enrekang 31 persen, Luwu 34 persen, Bone 34 persen, Luwu Utara 35 persen, Pinrang 37 persen, dan Luwu Timur 38 persen.
Sementara itu, daerah dengan capaian tertinggi penemuan yaitu Kota Makassar 100 persen, Kota Palopo 95 persen, dan Kota Parepare 92 persen.
“Kita masuk dalam delapan provinsi kasus terbesar, oleh karena pertama jumlah populasi Sulsel tinggi, kedua jumlah target penemuan kasus tertinggi secara nasional dan ketiga jumlah kabupaten/kota yang banyak,” ungkap dr. Evi.
“Langkah-langkah strategi kami terus lakukan, mulai dari koordinasi dengan lintas program di 24 kabupaten/kota hingga penguatan di tingkat puskesmas dan desa. Kami juga melibatkan kepala desa, camat, dan lurah sebagai bagian dari indikator kinerja daerah,” tutup dr. Evi Mustikawati Arifin. (jun)





