PAREPARE, BKM — Institut Agama Islam Negeri Parepare menorehkan prestasi dengan menempati peringkat ke sepuluh nasional berdasarkan pemeringkatan sepuluh PTKIN terbaik versi skor Sinta 2025. Capaian tersebut yang tidak bisa dibaca sebagai kebetulan di tengah dominasi kampus besar dengan sejarah panjang dan sumber daya melimpah.
Rektor IAIN Parepare Prof Dr Hannani dalam paparanya, Selasa (6/1) menjelaskan capaian ini menjadikan IAIN Parepare sebagai satu satunya institusi berstatus IAIN yang berhasil masuk sepuluh besar, sekaligus PTKIN dengan peringkat tertinggi di kawasan Indonesia Timur. Data Sinta mencatat IAIN Parepare meraih skor tiga tahun sebesar 62.949 dan skor keseluruhan sebesar 99.454. Angka ini merekam kerja akademik yang berlangsung secara konsisten dari waktu ke waktu. Di balik data tersebut, terdapat sistem pengelolaan riset dan publikasi yang dijalankan secara terencana, rapi, dan berkelanjutan.
Dengan jumlah dosen sekitar 260-an orang, capaian ini menunjukkan arah pengembangan institusi yang jelas. IAIN Parepare memilih memaksimalkan kualitas sebagai strategi utama. Produktivitas publikasi ilmiah dosen dan mahasiswa, penguatan jurnal, penulisan buku, serta luaran riset berupa Hak Kekayaan Intelektual tumbuh dalam satu ekosistem akademik yang saling terhubung.
Hal ini menjadi penanda penting dari arah tersebut. Sebagai Rektor, Prof Hanani menempatkan riset sebagai fondasi penguatan institusi. Riset tidak diposisikan sebagai kewajiban administratif melainkan sebagai instrumen strategis untuk membangun reputasi akademik dan kepercayaan publik.
Dia menegaskan capaian ini merupakan hasil kerja kolektif seluruh civitas academica. Dosen, peneliti, pengelola jurnal, dan tenaga kependidikan bekerja secara konsisten mendorong publikasi bereputasi, peningkatan mutu riset, serta pemanfaatan platform SINTA secara optimal dan berkelanjutan. Bagi pimpinan kampus, keberlanjutan capaian lebih penting daripada euforia sesaat.
Kerja kolektif tersebut tampak nyata di berbagai lini. Di lingkungan Pascasarjana, terdapat kebijakan yang dijalankan secara konsisten untuk mendorong mahasiswa menghasilkan artikel ilmiah dan Hak Kekayaan Intelektual sebagai bagian integral dari proses akademik. Di tingkat fakultas, publikasi mahasiswa diperkuat melalui pendampingan dan akses terhadap jurnal ilmiah. Para dosen terus menjaga produktivitas publikasi di tengah pelaksanaan tridarma perguruan tinggi.
Di balik layar, kerja akademik didukung oleh peran staf dan unit pendukung. Proses pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual, pengelolaan publikasi, hingga pembaruan data SINTA dikerjakan secara telaten. Pusat publikasi dan penerbitan bersama unit terkait memastikan setiap karya civitas academica tercatat, terbit, dan terindeks dengan baik. Tangan tangan yang bekerja dalam senyap inilah yang menjaga keterbacaan capaian institusi di tingkat nasional.
Seluruh ekosistem riset tersebut dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IAIN Parepare. Ketua LP2M, Dr Muhammad Haramain, menilai capaian SINTA sebagai indikator meningkatnya kematangan tata kelola riset kampus. Menurutnya, kebijakan riset harus diterjemahkan menjadi praktik yang terukur dan berdampak.
Ke depan, LP2M menargetkan optimalisasi pemanfaatan SINTA, peningkatan publikasi internasional dosen, penguatan kinerja dan peringkat jurnal ilmiah, serta peningkatan produktivitas penulisan buku dan karya akademik lainnya. Harapannya, capaian yang diraih saat ini dapat dipertahankan sekaligus ditingkatkan secara berkelanjutan pada tahun tahun mendatang.
Capaian IAIN Parepare hari ini bukan sekadar tentang posisi dalam pemeringkatan. Ia adalah penegasan identitas institusi yang bekerja dengan sistem, dipimpin dengan arah yang jelas, dan ditopang oleh kolaborasi lintas unit. Di bawah kepemimpinan Prof Dr Hannani MAg, IAIN Parepare menunjukkan kesiapan untuk terus tumbuh, bersaing, dan memberi kontribusi bermakna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam.
Dari Parepare, sebuah pesan akademik disampaikan dengan tenang, tetapi meyakinkan. Mutu yang dirawat dengan konsistensi akan menemukan jalannya sendiri menuju pengakuan nasional. (mup/D)







