‎Forum Ilmuwan Muda Indonesia–Australia Perkuat Diplomasi Sains dan Kolaborasi Riset Lintas Benua

MAKASSAR, BKM— Panggung kerja sama riset Indonesia memasuki babak baru. Universitas Hasanuddin bersama Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) resmi menggelar Kongres Ilmuwan Muda Indonesia (KIMI) ke-4 yang dirangkaikan dengan The 1st Indonesia–Australia Young Scientists Forum, di Ballroom Unhas Hotel & Convention, Makassar, Selasa (9/12/2025).

‎Kegiatan berskala internasional ini menjadi momentum penting bagi Indonesia dalam memperkuat diplomasi sains, sekaligus membuka jalur kolaborasi antara peneliti muda dua negara yang selama ini banyak bergerak secara terpisah.

‎Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Stella Christie, yang hadir langsung meresmikan kegiatan tersebut, menegaskan bahwa pemerintah tengah mendorong arah baru pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia yang lebih terbuka, kolaboratif, dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat.

‎Ia juga menyampaikan bahwa struktur kolaborasi riset internasional kini berubah. Ilmuwan, menurutnya, tidak lagi harus menunggu mekanisme formal lembaga atau kementerian untuk memulai kerja sama.

‎”Sekarang pola kerja ilmuwan berbeda. Mereka tidak harus menunggu universitas atau kementerian untuk membuka pintu. Justru perjumpaan seperti ini di mana peneliti langsung bertemu, berdiskusi, saling mengenali pertanyaan riset yang akan melahirkan kolaborasi paling relevan,” ungkapnya.

‎Ia mencontohkan banyak kasus ketika peneliti Indonesia dan Australia mengkaji isu yang serupa mulai dari ekologi pesisir, biologi mikroorganisme, hingga ekonomi perempuan namun tidak saling mengetahui kemajuan penelitian masing-masing.

‎”Sering kali mereka sudah punya pertanyaan yang sama, tetapi data ada di Indonesia, sementara analisis atau teknologinya ada di Australia. Pertemuan seperti KIMI membuat keduanya bisa langsung bekerja bersama tanpa birokrasi panjang,” jelasnya.

‎Lebih jauh, Wamen menekankan bahwa pemerintah kini memberi perhatian khusus pada riset berbasis kebutuhan publik. Menurutnya, masih banyak penelitian di Indonesia yang dilakukan karena dorongan kelompok atau kepentingan internal lembaga, bukan berdasarkan urgensi masyarakat.

‎”Kita mulai mengubah budaya riset Pemerintah mendorong peneliti bekerja berdasarkan apa yang dibutuhkan masyarakat. Kalau masyarakat punya masalah lingkungan, kesehatan, pendidikan, atau ketahanan pangan, maka riset harus menjawab itu,” jelasnya.

‎Ia menegaskan bahwa kolaborasi internasional adalah cara tercepat mempercepat penyelesaian persoalan tersebut. “Tidak ada satu negara yang bisa menyelesaikan persoalan lingkungan sendirian. Kolaborasi Indonesia–Australia ini membuka peluang besar,” ucapnya.

‎Ia menegaskan bahwa arah baru riset Indonesia harus diletakkan pada keberanian ilmuwan untuk memulai kerja sama dan memperkuat jejaring. “Ilmuwan kita banyak yang unggul yang dibutuhkan sekarang adalah jaringan, kepercayaan, dan ruang kolaborasi seperti KIMI dari sinilah masa depan sains Indonesia dibangun,” bebernya.

‎Sementara itu, Konjen Australia di Makassar, Todd Dias, menyebut forum ilmuwan muda Indonesia–Australia ini sebagai tonggak awal jejaring sains dua kawasan Asia Tenggara dan Oseania. Ia menilai hubungan riset kedua negara memiliki masa depan yang panjang karena keduanya menghadapi tantangan yang serupa.

‎”Forum ini bukan sekadar pertemuan akademik, tetapi investasi masa depan kawasan. Indonesia dan Australia memiliki banyak irisan tantangan mulai dari biodiversitas, perubahan iklim, kelautan, hingga ekonomi digital. Kolaborasi ilmuwan muda adalah kunci mengisi masa depan tersebut,” katanya.

‎Menurutnya, Australia melihat Makassar sebagai salah satu pusat pertumbuhan ilmiah yang strategis di Indonesia Timur. KIMI IV disebut sebagai pintu masuk memperluas networking, pertukaran data, hingga penelitian bersama yang dapat berkembang menjadi proyek jangka panjang.

‎Forum ini diikuti ratusan ilmuwan muda lintas disiplin mulai dari bioteknologi, lingkungan, kesehatan, teknik, ekonomi, hingga sosial-humaniora yang akan terlibat dalam diskusi panel, pitching riset, dan penjajakan kolaborasi. (ita)

source