TAKALAR,UJUNGJARI.COM–Takalar merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang menjadi destinasi wisata budaya dan sejarah. Salah satunya adalah Benteng Sanrobone yang terletak di Desa Sanrobone, Kecamatan Sanrobone, Takalar.
Areal Benteng Sanrobone memiliki lahan seluas 25.54 hektare. Rinciannya sisi barat sepanjang 573 meter, sisi selatan 529 meter, sisi timur 748 meter dan sisi utara 332 meter.
Benteng ini terbuat dari batu bata dan berbentuk perahu yang mempunyai tujuh pintu. Empat pintu besar searah dengan mata angin dan tiga pintu kecil dengan ketebalan dinding tembok selebar empat meter.
Konon benteng ini dahulu mempunyai tinggi enam meter. Akan tetapi karena reruntuhan, saat ini hanya tersisa sekitar dua meter saja dari permukaan tanah.

Tidak ada referensi pasti yang menerangkan kapan benteng ini di bangun. Akan tetapi melihat bahan bangunannya dengan batu bata, besar kemungkinan benteng ini dibangun bersamaan dengan pembangunan benteng-benteng pertahanan Kerajaan Gowa Tallo di masa pemerintahan Karaeng Sanrobone VII, Tumenanga ri Batana.
Sisa-sisa benteng yang ada pun hanya sekilas tampak seperti tembok lebar berbatu bata merah biasa dengan hiasan dua meriam panjang seberat 150 kg yang kini berkarat tak terpelihara. Selebihnya hanya tanah lapang luas dengan papan bertuliskan “Kawasan Ini Dilindungi Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala”.
Benteng ini runtuh bersama dengan benteng somba opu dan beberapa benteng lain yang diratakan dengan tanah oleh Cornelis Speelman, Jenderal pasukan VOC pada perang Makassar (Oktober 1666-12 Juni 1669). Total di wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo ada 14 benteng. Kini hanya tersisa satu benteng yang masih utuh yakni Benteng Pannyua atau Fort Rotterdam.
Kompleks Benteng Sanrobone semakin hancur pada masa pemberontakan DI/TII. Istana kerajaan dibakar pada tahun 1956 oleh pemberontak lantaran Raja Sanrobone ke 23 (raja terakhir 1950-1956), Mallombasi Daeng Kilo, memihak ke negara kesatuan Republik Indonesia.
Akibatnya, semua catatan sejarah tentang Sanrobone dan barang kerajaan ludes tak bersisa. Yang tersisa hanya tungku besar terbuat dari batu bata merah untuk membuat roti dan tiang pemancang yang digunakan sebagai penanda upacara pengangkatan Raja Sanrobone. Hanya itu.
Dalam lokasi benteng, terdapat beberapa situs bersejarah seperti makam dari Karaeng Sanrobone pertama dalam hal ini adalah makam dari Karampang Cambelong atau yang lebih populer dengan sebutan Karaeng Panca Belong.
Terdapat pula Ga’donga (Kompleks Makam Kuno), Masjid Tua Sanrobone, Rumah Adat Sanrobone, Kompleks Makam Raja-Raja Sanrobone juga situs Pocci Buttaya ri Sanrobone* (*Pocci Butta ri Sanrobone sama dengan Pusat Tanah Sanrobone). Di sudut benteng, tepatnya di sebelah barat benteng terdapat petilasan dari Karaeng Lolo Bayo dan Karaeng Balaspati.
Keberadaan benteng ini menjadi saksi jika di Takalar pernah ada kerajaan di masa lampau. Namanya Kerajaan Sanrobone yang didirikan Karaeng Panca Belong atau yang juga dikenal dengan Karampang Cambelong.
Seperti yang tertulis dalam sebuah catatan bertajuk Lontara Patturioloanga ri Sanrobone, Karaeng Panca Belong merupakan orang pertama yang menjadikan daerah Sanrobone sebagai daerah pemukiman.
Kerajaan ini awalnya merupakan kerajaan yang berdiri sendiri, hingga kemudian menjadi Kerajaan Palili. Kerajaan Palili sendiri merupakan sebutan untuk kerajaan yang menjadi pengikut dari Kerajaan Gowa. Sisa sisa kemegahan dari kerajaan ini, masih bisa terlihat hingga kini. Menginjakkan kaki di bagian dari sejarah ini, maka anda bisa berangan angan bagaimana dahulu rupa dari Kerajaan dan juga peradaban yang ada di Sulawesi Selatan saat itu.
Walaupun kini, hanya tersisa jejaknya dalam bongkahan batu merah. Benteng Sanrobone menjadi situs yang menjadi Situs Cagar Budaya. Saat anda melihatnya langsung, mungkin hanyalah sisa bebatuan yang tak tersusun tuntas. (nca)
Artikel Benteng Sanrobone; Peninggalan Sejarah Kerajaan yang Jadi Destinasi Wisata Budaya di Takalar pertama kali tampil pada Ujung Jari.





