MAKASSAR, BERITAKOTAMAKASSAR.COM — Aksi penjarahan anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Sulselbar terjadi ketika berlangsung aksi demo berujung rusuh di DPRD Makassar, 29-30 Agustus lalu. Polisi berhasil mengungkap kasus ini dengan menangkap sembilan orang tersangka. Tim Unit Jatanras Satreskrim Polrestabes Makassar masih memburu mereka yang diduga terlibat.
Pada Sabtu dinihari 13 Semptember 2025, polisi berhasil meringkus empat orang secara terpisah. Masing-masing As, Bt, Mh, dan Rd. Selanjutnya, pada Minggu diinihari 14 September 2025, petugas kembali membekuk lima orang. Sementara barang bukti mesin ATM yang sempat dibuang ke sungai oleh para pelaku, akhirnya ditemukan di wilayah Kabupaten Gowa.
Aksi pencurian ini terungkap setelah polisi menelusuri rekaman kamera pemantau (CCTV) dan jejak para pelaku. Mereka memanfaatkan situasi ricuh pada Sabtu, 30 Agustus 2025 dini hari, ketika massa membakar gedung DPRD Makassar lalu merembet ke gedung DPRD Sulsel. Di tengah kondisi kacau, kelompok ini menyasar mesin ATM yang berada di dekat pagar pintu masuk.
“Para pelaku menggunakan gurinda untuk membobol mesin lalu membawa kabur isinya,” terang Kasubnit 2 Jatanras Satreskrim Polrestabes Makassar Iptu Nasrullah, Minggu 13 September 2025.
Nasrullah menuturkan, lima orang yang berhasil diamankan pada Minggu dinihari, tiga diantaranya dibekuk di wilayah Gowa. Masing-masing satu di Bontonompo dan dua di Samata. Sementara dua lainnya diringkus di Jalan Cendrawasih, Makassar.
Setelah mendapat informasi dari para tersangka, tim Jatanras bergerak ke daerah Parangloe, Kabupaten Gowa.
Nasrullah bersama anggotanya bahkan harus mencebur langsung ke dalam sungai untuk mencari barang bukti.Mereka terpaksa berenang di sungai sambil menyisir lumpur.
Setelah berjam-jam melakukan pencarian, mesin ATM yang telah dirusak itu akhirnya ditemukan di dasar sungai. Petugas bahkan terlihat setengah mati mengangkat mesin itu ke daratan. “Barang bukti kami temukan di sungai, daerah Parangloe,” ujar Nasrullah.
Setelah berhasil diangkat, kemudian dilakukan pemeriksaan. Mesin ATM tersebut sudah tak lagi berisi uang. ”(Isinya) habis semua,” ucapnya.
Dari hasil penyelidikan, jumlah uang yang sempat dibawa kabur oleh para pelaku mencapai Rp400 juta lebih. Mereka yang diperkirakan berjumlah kurang lebih 20 orang masing-masing mendapatkan pembagian sekitar Rp18 juta.
Empat orang pelaku yang diamankan polisi pada Sabtu dinihari, diciduk di wilayah Mariso dan Hertasning, Makassar serta satu di Panciro, Kabupaten Gowa. Kepada petugas yang memeriksanya, mereka mengaku memanfaatkan situasi chaos ketika gedung DPRD terbakar. “Situasi ketika itu sudah tidak terkendali, jadi mereka ambil kesempatan,” kata Nasrullah.
Setelah berhasil membawa kabur mesin ATM, para pelaku mengeluarkan uangnya dan menghabiskannya untuk bersenang-senang. “Uangnya dipakai untuk foya-foya,” jelas Nasrullah.
Pakai Tiga Mobil, Mesin ATM Digurinda
Iptu Nasrullah lalu menjelaskan kronologis pelaku membawa kabur mesin ATM. “Kurang lebih ada 20 pelaku penjarahan. Mereka baku panggil-panggil saat di lokasi. Itu mesin (ATM) memang sudah tergeletak, karena sudah terhambur pecah dan terbakar ruangannya. Malahan sepertinya di lokasi sudah ada yang menjarah isinya. Kemudian muncullah beberapa orang ini saling panggil, mauko uang. Ditahan mobil pick up yang jalan di subuh hari. Diangkat ke situ. Tiga kali ganti mobil. Dua pick up, satu Wuling,” ungkap Nasrullah.
”Mobil pick up pertama yang membawa makanan babi lewat di subuh hari. Kendaraan tersebut langsung diarahkan ke Jalan Hertasning dan berhenti di pertigaan Warkop Azzahra. Di situ mau dibongkar (mesin ATM), tapi tidak bisa. Mereka tahan lagi mobil pembawa sayur dan dibawa sampai ke dekat bundaran Samata. Mobil dibawa masuk ke dalam tak jauh dari sebuah kos-kosan pinggir sawah. Dipinjam listrik lalu mesin ATM digurinda. Kurang lebih 4-5 jam baru terbuka,” terang Nasrullah lagi.
Setelah selesai, lanjut Nasrullah, dengan menggunakan mobil pick up, pelaku ke Jalan Toddopuli untuk mengambil mobil rental jenis Wuling. Mobil itu diarahkan ke Jalan Hertasning dekat Coto Paraikatte. Uang isi ATM kemudian dibagi, dengan masing-masing mendapatkan Rp18 juta.
Mesin ATM yang telah dibongkar lalu dibawa dengan menggunakan mobil rental Wuling ke Parangloe, dibuang ke sebuah sungai guna menghilangkan barang bukti.
Nasrullah menyebut, dalam mesin ATM tersebut terdapat empat boks. Masing-masing boks berisi Rp200 juta. Saat dibawa oleh para pelaku yang tersisa dua tengah boks. Sehingga totalnya diperkirakan mencapai Rp500 juta.
Hingga saat ini polisi masih mendalami kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat dalam aksi pencurian ini. Termasuk apakah ada aktor yang mengatur skema pembobolan di balik kerusuhan.
“Kami duga (pelakunya) ada puluhan. Masih dalam pengembangan,” terangnya. (jun-jul)






