Babinsa dan Babinkamtibmas Soppeng Ikut Bergotong Royong

SOPPENG, BKM — Babinsa Desa Bulue Serma Jaliluddin bersama Babinkantibmas Aiptu Ibrahim serta Kades Bulue Abdul Majid berbaur dengan masyarakat dalam kegiatan Gotong royong Pengecoran Jembatan Datae, Minggu (5/6).
Ketiganya bukan hanya datang saja memantau,atau memerintah tapi mereka ikut bekerja dengan masyarakat tanpa sekat.
Diketahui sebelumnya setelah masyarakat Datae Desa Bulue, Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng menantikan pembanguna jembatan baik dari Pemerintah Desa maupun dari Pemkab Soppeng tidak kunjung datang dan tanpa kepastian kapan akan dibangun. Akhirnya masyarakat Datae berinisiatif membangun jembatan tanpa bantuan dana dari pemerintah,dengan semangat gotong royong yang tinggi mereka membangun jembatan dengan dana swadaya masyarakat dan nantuan donasi.

Warga Datae Abubakar mengatakan diam dan menunggu bukan solusi. Daripada menunggu tanpa kejelasan kami masyarakat Datae berinisiatif membangun jembatan dengan dana swadaya, dan alhamdulillah setelah pembangunan jembatan berjalan sejumlah bantuan mengalir, mulai dari sumbangan berupa uang dan semen.
“Sekarang ini sudah tahap pengecoran setelah 12 hari kita bergotong royong, semua warga Datae terlibat dalam kegiatan gotong royong mulai dari anak muda orang tua bahkan emak emak pun ikut ambil andil mulai dari persiapan konsumsi mengumpul pasir bahkan para emak emak ikut mengangkat batu seolah tidak mau kalah dengan bapak-bapak,” ujar Abu.
Dia menambahkan mewakili warga Datae menyampaikan terimakasaih kepada kepada semua yang terlibat dalam kegiatan pembangunan jembatan. ”Saya yakin dan percaya tanpa sumbansi kalian semua kegitan pembangunan jembatan Datae tidak akan dapat terlaksana,” tambah Abu.

Kades Bulue, Abdul Majid menjelaskan pihaknya tidak dapat menggunakan Dana Desa untuk pembangunan jembatan tersebut. Alasannya, jembatan itu merupakan aset milik Pemkab Soppeng dan bukan kewenangan desa. Dana Desa tidak bisa dipakai untuk membangun jembatan ini, karena statusnya milik pemerintah daerah.
Kades menambahkan, kondisi ini membuat masyarakat berada dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, jembatan adalah kebutuhan vital yang tidak bisa ditunda. Jembatan ini bukan hanya sekadar sarana penyeberangan, melainkan urat nadi kehidupan mereka. ”Melalui jembatan tersebut, hasil pertanian dibawa keluar desa untuk dijual, anak-anak berangkat sekolah,hingga aktivitas sosial lainnya dilakukan,” tuturnya. (ono/D)

source

News Feed