MAKASSAR, BKM — Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN (Mendukbangga/KepalaBKKBN), Wihaji menyebut, sebanyak 11 juta anak Indonesia tak punya ayah, dan 409 ribu ada di Sulawesi Selatan.Sementara di Kota Makassar ada 53 ribu. Dengan begitu, Kemendugbangga/BKKBN punya program Gerakan Teladan Ayah Indonesia (GATI).
“20,9 persen anak Indonesia kehilangan sosok ayah. Ada bapak kayak tidak ada, kemarin sudah saya ceritakan. Karena itu saya bikin program gerakan teladan ayah Indonesia, walaupun banyak protes, Pak Wihaji, bagaimana dengan tadi ada 11 juta rakyat Indonesia yang tidak punya ayah, ada 409 ribu rakyat Sulsel yang sebagai kepala rumah tangga perempuan,” kata Wihaji dalam sambutannya dalam perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang dipusatkan di Makassar, Senin (28/7).
Wihaji menyampaikan, pihaknya ingin sosok ayah dalam 11 juta anak itu ada dengan adanya program GATI ini. Ia juga bilang, 409 ribu anak yang tak punya bapak itu, 53 ribu di antaranya ada di Makassar.
“Saya mulai dari hari pertama masuk sekolah, supaya bapak-bapak mengantar anaknya ke sekolah. Saya laporkan pak Gub, ada 409 ribu kepala rumah tangga perempuan yang ada di Sulsel, ada 53 ribu yang ada di Makassar, pak itu gimana itu kan tidak ada ayahnya?. Insyaallah kita bukan masalah ayahnya, tapi sosok ayahnya. Karena itu kita perhatian terhadap orang-orang yang luar biasa, 409 ribu masyarakat Sulsel sebagai kepala rumah tangga perempuan, ini adalah orang-orang luar biasa, semoga nanti tetap tahan, luar biasa, dan mempunyai sosok ayah,” ungkapnya.
Ia pun mengajak semua yang hadir dalam perayaan Harganas di Sulsel ini untuk menonton film yang akan dilaksanakan oleh Kemendugbangga/BKKBN yang berjudul ‘Panggil Aku Ayah’.
Wihaji menyampaikan, negara harus hadir dalam persoalan yang dihadapi para rakyat, termasuk anak yang tak punya ayah ini.
“Siapa ayah itu? bisa beliaunya (ibunya), bisa tanda petik kira-kira betul dari hati nanti. Kita nanti ada film ‘Panggil Aku Ayah’ sebagai jawaban ada beberapa kepala rumah tangga perempuan yang tidak ayah, tapi di situ ada sosok ayah yang hadir, butuh dan dibutuhkan oleh anak-anak yang hari ini tidak punya ayah,” tutupnya.
Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menegaskan komitmen Pemerintah Kota Makassar dalam mempercepat penurunan angka stunting sebagai bagian dari upaya membangun generasi emas Indonesia 2045.
Pernyataan ini ia sampaikan saat menghadiri Upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 yang mengusung tema “Dari Keluarga untuk Indonesia Maju”, di Lapangan Karebosi, Makassar.
Dalam sambutannya, Munafri menekankan bahwa pemerintah kota akan memberikan dukungan maksimal dalam penanganan stunting, termasuk melalui metode penganggaran yang terarah, program intervensi gizi, dan penguatan edukasi keluarga.
“Pembangunan keluarga tidak boleh setengah hati. Kami akan memastikan setiap program berjalan maksimal, termasuk dari sisi penganggaran,” ujar Appi.
“Hanya dengan keluarga yang sehat dan berkualitas, kita dapat melahirkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045,” tambah Munafri.
Ia menambahkan, Harganas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi nasional. Lanjut dia, Harganas adalah pengingat kolektif bahwa kekuatan bangsa berawal dari unit terkecil, yaitu keluarga.
“Lingkungan keluarga sangat penting. Di sanalah nilai moral, karakter, dan ketahanan bangsa dibentuk,” tegas politisi Golkar itu.
Munafri memaparkan bahwa Pemkot Makassar telah menetapkan Kampung Keluarga Berkualitas sebagai program prioritas daerah.
Langkah ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tingkat akar rumput.
Selain itu, Pemkot Makassar terus bersinergi dengan BKKBN melalui Program Bangga Kencana dan menggandeng lintas sektor pendidikan, kesehatan, keagamaan, hingga tokoh masyarakat agar pembangunan keluarga menjadi gerakan bersama.
Munafri juga menekankan bahwa tantangan keluarga di era modern semakin kompleks: dinamika sosial, perkembangan teknologi, hingga tekanan ekonomi.
“Keluarga tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan perlindungan, edukasi, dan dukungan nyata dari negara. Pemerintah pusat, provinsi, daerah, hingga elemen masyarakat harus bersatu menciptakan lingkungan yang ramah keluarga,” jelasnya.
Ia mengajak seluruh pihak memperkuat sinergi untuk memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang sehat, harmonis, dan memiliki akses pendidikan serta peluang berkembang.(rhm-jun)





