Komitmen Target Low Carbon City
axel wiryanto
Rabu, 28 Februari 2024 03:55 am
dibaca 28 kali

MAKASSAR, BKM — Pemerintah Kota Makassar di bawah kepemimpinan Mohammad Ramdhan Pomanto berkomitmen mewujudkan Makassar ramah lingkungan dengan target low carbon.
Alasannya, karena saat ini emisi karbon semakin tidak bisa dikendalikan dan menjadi tantangan dunia.
Gagasan soal Low Carbon City dengan Metaverse menjadi isu sentral yang dibahas bersama dalam Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) Pemkot Makassar 2024, di Hotel Four Point by Sheraton, Senin (26/2).
“Kita punya visi kota dunia. Kalau kita bicara kota dunia berarti kita harus punya komitmen yang mendunia. Salah satu komitmen dunia sekarang musuh bersama adalah emisi karbon,” kata Danny Pomanto.
Mengatasi emisi karbon, Pemkot Makassar saat ini mulai menggunakan kendaraan listrik, baik untuk kendaraan pribadi OPD hingga moda transportasi publik di lorong-lorong, yaitu Co’mo. Bahkan, pemerintah kota sudah melakukan uji coba memasang solar cell atau pembangkit listrik tenaga surya di sekolah.
Pemasangan solar cell di sekolah, puskesmas dan gedung pemerintahan menjadi penting mengingat banyak alat elektronik yang bergantung dengan listrik. “Kita akan men-solar cell-kan sekolah-sekolah, Puskesmas, dan kantor-kantor kita. Itu hal yang nyata,” tegasnya.

Program lain yaitu pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang sudah mempunyai pemenang. Sehingga bisa segera terbangun. “Sampah dengan sistem yang kita olah, diolah sampah rumah tangga dan juga sampah di TPA. Sehingga dalam waktu sembilan tahun TPA akan menjadi taman hijau. Itu hal-hal yang nyata dan itu sudah dalam persiapan kontraktual,” terangnya.
Termasuk juga pengurangan penggunaan kantong plastik. Di mana saat ini, Pemkot Makassar juga sudah meniadakan penggunaan kantong plastik di supermarket. “Bijak menggunakan kantong plastik ini menjadi kampanye yang harus kita terus masifkan di masyarakat,” tutupnya.
Rakorsus yang berlangsung selama satu hari, dibuka oleh Kepala Badan Strategis Kebijakan Dalam Negeri Kementerian Dalam Negeri RI Dr Yusharto Huntoyungo. Ia mengatakan, Rakorsus yang mengusung tema Makassar Low Carbon City With Metaverse merupakan inovasi yang tidak terpisahkan dari penyelesaian permasalahan sebagai tugas pemerintah.
“Rakorsus ini menjadi contoh praktik yang sangat baik, melibatkan banyak stakeholder, dan menujukkan sinergitas antara pemerintah,” katanya.
Dia pun menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Makassar yang telah menunjukkan prestasinya, mengantarkan Makassar sebagai kota terinovatif di Indonesia dengan 107 inovasi. “Prestasi terbaik melaporkan 107 inovasi dan semuanya memiliki tingkat kemanfaatan yang cukup tinggi dibanding daerah lain,” ujarnya.

Selain inovasi yang dilahirkan, tercatat pula bahwa inisiator di kota Makassar lebih didominasi dari kalangan ASN. Dengan banyaknya inovasi yang ada, disampaikan bahwa banyak diantaranya yang dapat direplika oleh daerah lain.
“Bentuk inovasi didominasi dalam bentuk pelayanan publik. Tercatat ada 18 inovasi digital dan 95 inovasi non digital,” imbuhnya.
Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Bahtiar Baharuddin dalam sambutannya, menyebut jika Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto sebagai role model wali kota di Indonesia. Ia mengaku bukan pertam kali mengenal Danny Pomanto. Sebab Danny merupakan sosok wali kota yang selalu masuk dalam deretan penerima penghargaan tingkat nasional.
“Pak Danny Pomanto ini bukan baru saya kenal hari ini. Setiap ada penghargaan yang diberikan nasional itu pasti ada Wali Kota Makassar. Ikon Sulsel adalah Pak Danny Pomanto. Jadi beliau ini role model wali kota di Indonesia,” puji Pj Bahtiar Baharuddin.
Pj Bahtiar Baharuddin juga meminta pemerintah daerah di Sulsel untuk mencontoh Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar yang sudah lebih dulu mendorong penerapan Low Carbon City. Hal itu sejalan dengan tema Rakorsus Pemkot Makassar 2024 yaitu Low Carbon City dengan Metaverse yang menghadirkan enam pembicara dari lima negara.
“Saya kira Makassar bisa menjadi contoh positif bagi kota-kota di Indonesia dan juga kabupaten/kota di Sulsel yang telah membangun kota ini menjadi kota yang sehat low carbon,” tuturnya.
Bahtiar pun mengapresiasi ide dan gagasan Danny yang terus mendorong penerapan low carbon city. “Makassar dipimpin Wali Kota Danny Pomanto memiliki gagasan besar dengan ide Low Carbon City dengan Metaverse. Konkret beliau sudah melakukan banyak hal. Hampir beberapa pelayanan publik saya lihat langsung tadi sudah migrasi menggunakan listrik,” jelas Pj Bahtiar.

Manajemen Air

Dalam mendukung pengembangan Makassar Low Carbon City dengan Metaverse, Professor of Sustainable Development Monash University Prof. Tony Wong memaparkan pandangannya terkait The Role of Digital Technology in Implementing Water Sensitive Cities atau Peran Teknologi Digital dalam Penerapan Kota Sensitif Air. Paparan itu ia sampaikan secara virtual dalam agenda Rakorsus.
Dalam penjelasannya, Prof. Tony Wong menyoroti hubungan yang kompleks antara tantangan global, terutama terkait air, iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Tony Wong menjelaskan bahwa solusi untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah disusun oleh 169 negara anggota PBB pada tahun 2015 lalu untuk dicapai pada 2030 mendatang haruslah terintegrasi dan berkelanjutan, karena berbagai masalah saling terkait.

“Dari hasil analisis kami, ditemukan bahwa 50 dari 116 yang terkait dengan SDGs itu terkait langsung dengan manajemen air. Jadi hampir setengah dari target SDGs itu terkait dengan penanganan air,” ungkap Tony Wong.
Dalam konteks ini, lanjut Tony Wong, teknologi digital memainkan peran penting. Penggunaan teknologi untuk manajemen air, penggunaan air, dan daur ulang dapat memberikan solusi yang efektif. Misalnya, dalam penanganan banjir, teknologi digital dapat digunakan untuk mengoptimalkan sistem drainase, bahkan dengan memanfaatkan terowongan.
“Penanganan air berpengaruh kepada banyak hal. Jadi apapun solusi yang ditawarkan, kita harus selalu melihat siapa dan apa yang berdampak atas solusi tersebut agar bisa melihat hasil sesuai dengan yang kita inginkan,” jelasnya.
Selain itu, integrasi teknologi juga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pengelolaan air dan respon terhadap bencana seperti banjir. Dengan demikian, teknologi digital tidak hanya menjadi alat untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperkuat keterlibatan publik dalam pembangunan kota yang ramah air.
Melalui pendekatan ini, kata Tony Wong, Kota Makassar dapat menjadi lebih tangguh terhadap perubahan iklim sambil mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama dalam menghadapi tantangan terkait air dan iklim.
“Dengan memahami iklim kita bisa mengambil tindakan yang tepat. Kita tidak bisa tidak mengacuhkan adaptasi iklim, dan penggunaan digital teknologi sangat penting perannya dalam rangka adaptasi tersebut,” pungkasnya. (rhm-jun)

source